Subscribe:

Main Menu

Kamis, November 25, 2010

Pilih Istri yang bekerja atau yang tidak?

Jika memiliki istri, lebih memilih istri yang bekerja atau yang tidak?. itu hal yang sering di tanyakan sama saudara-saudara atau teman. memang ini yang sering menjadi permasalahan.

Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun ada salah satu teman saya dimana sang suami masih harus di sibukkan dengan pekerjaan rumah tangga. di karenakan istrinya juga bekerja dan tidak bisa memasak.

Ada juga salah satu teman yang tiap hari harus menempuh jarak puluhan kilo meter untuk bekerja dan pulang kerumah. di karenakan istri bekerja di tempat yang lumayan jauh. dan dengan pertimbangan lebih baik suami yang menempuh jarak jauh itu dari pada sang istri.

Ada juga salah satu teman yang terpaksa terpisah dengan sang istri karena istri bekerja dan jaraknya yang begitu jauh sehingga tidak memungkinkan untuk pulang tiap hari. sehingga bisa bertemu 1 minggu sekali, 2minggu atau berbulan2 baru bertemu.

Ada juga teman yang di mintai pendapat jika jadi istri lebih memilih tidak bekerja atau bekerja? mereka cenderung memilih untuk bekerja dikarenakan sudah belajar/kuliah tinggi-tinggi. eman dong kalau tidak kerja. atau dengan alasan males jika di rumah terus.

Ada juga teman yang mengeluh tentang pengalamannya menjadi istri yang juga berperan sebagai pencari nafkah untuk membiayai kehidupan rumah tangga. Mereka seringkali harus melakukan double function. Pagi-pagi sekali mereka harus bangun untuk menyiapkan sarapan keluarga dan keperluan sekolah anak-anak. Kemudian mereka bergegas mempersiapkan diri untuk menuju tempat kerjanya. Sore hari mereka harus kembali mengurus keperluan keluarga.

Saya sungguh prihatin sekaligus salut dengan mereka. Sementara suami mereka praktis hanya melakukan pekerjaan sebagai pencari nafkah, sementara keperluan pribadi mereka sudah diurus oleh istri. Sedang keperluan pribadi istri tidak diurus oleh suami. Sudah begitu, para suami terkadang masih tidak mau memahami keadaan dan sering kali istri masih dipersalahkan terhadap ketidak beresan dalam urusan rumah tangga.

Mungkin bagi mereka yang punya rezeki lebih, bisa menyewa pembantu untuk membantu mengurus kehidupan keluarga. sehingga sang istri tidak terbebani dengan urusan rumah tangga. Tapi apakah anak-anak mereka juga harus di urus oleh pembantu? ada temen yang mengatakan kalau seperti itu jadi anak pembantu donk :). dan tentu saja kebutuhan sang suami juga akan di sediakan oleh pembantu(apakah ini berarti juga suaminya jadi suami pembantu? hahaha.. jangan sampek dah..)

Mungkin ada baiknya juga jika menyewa pembantu, hanya sekedar untuk membantu sang istri. bukan berarti melepas semua urusan rumah tangga kepada pembantu. namanya pembantu ya membantu sang istri. semua keperluan dan tanggung jawab tetap kepada sang istri. karena kalau semua diserahkan ke pembantu kasihan istri juga dia tidak bisa berkhidmat kepada suami.

Berkhidmat kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhu, suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)

Mengenai pembantu ada sebuah cerita tentang khidmatnya Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu, sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:

أَلاَ أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى فِرَاشِكُماَ أَوْ أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ وَسَبَّحاَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)

Jadi kalau menurut pendapat saya, lebih baik istri itu mengurus kehidupan rumah tangga. kalaupun ingin bekerja silahkan bekerja tapi jangan terlalu ngoyo. jangan terlalu berat sehingga membuatnya terbebani. bekerja yang ringan-ringan saja. kerja setengah hari saja atau apa saja yang penting lebih banyak berada di rumah untuk mengurus anak-anak mereka. sekaligus mengajari mereka mengaji/akhlak-akhlak yang baik. karena ilmu yang mereka dapat pertama adalah di rumah. jadi lebih baik di urus oleh istri saja dari pada pembantu. takutnya nanti pembantunya kurang baik nanti di ajarin kurang baik juga.

Tapi ya entahlah ini menurut pendapat pribadi saja. lagi pula saya sendiri juga belum menikah jadi belum berpengalaman. ini hanya dari penilaian saya mendengar cerita dari teman2 atau dari publik. wallahualam..



Hadits : Tentang Neraka dan Surga

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab : setiap kali Rasulullah Saw menyelesaikan shalat (subuh), Nabi Muhammad Saw menghadapkan wajahnya kepada kami dan bertanya, “siapa diantara kalian yang bermimpi tadi malam?” maka orang yang bermimpi malam itu akan menceritakannya. Nabi Muhammad Saw akan mengatakan, “Masya’ Allah”.
Pada suatu hari Nabi Muhammad Saw bertanya apakah ada salah seorang dari kami yang melihat sesuatu di dalam mimpinya. Kami menjawab tidak, Nabi Muhammad Saw bersabda, “tetapi tadi malam aku telah melihat (dalam mimpi) dua orang laki-laki menemuiku, menjabat tanganku dan membawaku ke Tanah Suci.

Disana, aku melihat seseorang tengah duduk dan yang lainnya berdiri memegang sebuah pengait besi dan menekannya ke mulut orang yang disebut pertama hingga mengenai tulang rahangnya, merobek pipinya yang sebelah, dan pipinya yang sebelah lagi; pada saat yang bersamaan pipinya yang sebelah telah normal kembali. Begitulah hal itu dilakukan berulang kali.
Aku berkata, “apa ini?” mereka berkata agar meneruskan perjalanan hingga kami melihat seorang laki-laki yang berbaring dalam posisi meniarap, dan lelaki lain berdiri di atas kepalanya membawa sebuah batu atau kepingan karang, meremukkan kepala orang yang disebut pertama, dengan batu itu. Setiap kali ia memukul kepala orang itu, batu itu menggelinding. Ia mengambil batu itu dan ketika kembali, kepala orang yang telah hancur itu telah normal kembali dan ia kembali menghancurkan kepala orang itu (dan begitu seterusnya). Aku berkata,”siapa (apa) ini?”
Mereka mengatakan kepadaku agar meneruskan perjalanan; maka kami pun meneruskan perjalanan hingga melewati sebuah lubang mirip sebuah tungku, yang atasnya sempit dan bawahnya lebar, dan api berkobar-kobar di bawah lubang itu. Setiap kali nyala api membesar orang-orang terangkat ke atas seakan-akan mereka hendak terlontar dari sana, dan setiap kali nyala api menjadi lebih tenang, orang-orang jatuh kebawahnya. Orang-orang itu terdiri dari laki-laki dan perempuan yang telanjang. Aku berkata, “siapa (apa) ini?”
Mereka mengatakan kepadaku agar meneruskan perjalanan. Maka kami pun meneruskan perjalanan hingga tiba di sebuah sungai darah dan seorang laki-laki berkubang di dalamnya. Seorang laki-laki lain (berdiri di pinggir sungai) dengan sejumlah batu di depannya, laki-laki ini menyerang orang yang disebut pertama. Setiap kali orang yang berada di dalam sungai ingin keluar dari sana, laki-laki ini melemparkan sebuah batu ke mulutnya sehingga menyebabkan ia terjerembab ke tempatnya semula. Aku berkata, “siapa (apa) ini?”
Mereka mengatakan kepadaku agar meneruskan perjalanan, maka kamipun meneruskan perjalanan hingga tiba di sebuah kebun hijau lebat yang elok dan di dalamnya terdapat sebuah pohon yang luar biasa besarnya. Di bawah pohon itu duduk seorang lelaki tua dengan sejumlah anak. Aku melihat lelaki lain dengan api di depannya dan ia mengobarkannya.
Kemudian mereka (dua sahabatku) membawaku memanjat pohon itu dan membawaku masuk ke sebuah rumah yang paling indah yang pernah ku lihat. Di dalamnya terdapat sejumlah orang tua dan anak muda, perempuan dan anak-anak.
Kemudian mereka membawaku keluar dari rumah itu lalu membawaku memanjat pohon itu lebih tinggi dan membawaku masuk ke sebuah rumah yang lain yang lebih elok dan lebih indah dari sebelumnya yang berisi orang-orang tua dan orang-orang muda.
Aku berkata kepada mereka (dua sahabatku), “ anda telah membuatku berkeliling sepanjang malam. Ceritakan padaku semua yang telah kulihat.” Mereka berkata, “baiklah. Orang yang kau lihat dirobek pipinya, dahulunya seorang pembohong dan selalu mengatakan kebohongan. Atas perintahnya orang-orang akan menyebarkan kebohongannya ke seluruh dunia. Maka ia akan dihukum seperti itu di hari kiamat. Orang yang kau lihat kepalanya dihancurkan adalah orang yang telah diberi Allah pengetahuan Al Quran tetapi ia tidur sepanjang malam (tidak membacanya) dan perbuatannya di dunia tidak didasarkan atasnya; maka demikianlah hukumannya di hari kiamat. Dan orang-orang yang kau lihat berada di dalam lubang adalah orang-orang yang berzina (para pezina). Orang-orang yang kau lihat di sungai darah adalah para rentenir (berhubungan dengan riba). Dan orang yang kau lihat duduk di bawah pohon adalah Ibrahim a.s. anak-anak di sekelilingnya adalah ruh orang-orang yang telah meninggal. Dan orang yang mengobarkan nyala api adalah Malik, penjaga pintu neraka. Adapun rumah pertama yang kau masuki adalah rumah orang-orang beriman pada umumnya. Sedangkan rumah yang kedua (yang kau masuki) adalah rumah para syahid. Aku adalah Jibril dan ini adalah Mikail. Angkat kepalamu”. Aku mengangkat kepalaku dan melihat sesuatu seperti awan di atasku. Mereka berkata, “itulah tempatmu”. Aku berkata,”izinkan aku masuk ke tempatku”. Mereka berkata, “masih terdapat sebagian usiamu yang belum digenapkan olehmu. Apabila telah genap (sisa usia hidupmu) kau akan masuk ke tempatmu”.

Selasa, November 23, 2010

Sudah 1 Tahun berlalu

Sudah satu tahun kejadian itu terjadi, waktu begitu cepat berlalu. terasa baru kemarin hal itu terjadi. kesedihan dan kepedihan masih kuat terasa di hati. aku masih ingat dengan jelas detik-detik saat perginya beliau.

Sama seperti hari ini. cuaca saat itu begitu cerah, Matahari tidak memancarkan sinarnya begitu terang, dan juga tidak mendung apalagi hujan. saat sedang sibuk bekerja di kagetkan dengan berita dari adik. kata-kata yang di ucapkan masih terasa dan teringat di dalam ingatan. seakan percaya dan tidak aku terus meluncur pulang.

Ya saat itu adalah hari yang sangat menyedihkan, masih terasa kesedihan itu sampai saat ini, meski sudah satu tahun lamanya beliau meninggalkan kami. kenangan dan senyuman beliau masih terus terngiang di kepala.

Terakhir aku bisa bersama beliau dan melihat senyuman beliau adalah saat aku pulang dan di antarkan membetulkan lensa kaca mata. banyak hal yang beliau bicarakan. tidak aku sangka itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat dan berbicara dengan beliau.

Ada banyak orang yang ingin melihat orang tuanya bahagia. Tapi mereka sudah tidak bisa melakukannya. Bagi kalian yang masih bisa melakukannya, lakukanlah, janganlah membuat mereka sedih dan kecewa. dan jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari.

Kamis, November 18, 2010

fikiran liarku

Banyak hal yang menggangu pikiranku, saat dalam perjalanan pulang atau berangkat kerja. semua pikiran dan ingatan melayang bebas. teringat pada waktu masih SMA. semua terasa indah dan menyenangkan. berangkat sekolah dengan jalan kaki. bercanda dengan teman2 di dalam perjalanan. semua masih teringat jelas di ingatan. seakan kejadian itu masih baru kemarin. setiap kejadian terus bermunculan. lulus dan meneruskan kuliah di malang, lalu ke surabaya. seakan semua baru saja terjadi.

semua hal yang telah terjadi seakan mimpi yang baru saja terjadi. dan tak terasa saat ini saya sudah memasuki dunia kerja. begitu cepat waktu berlalu. apa yang sudah saya peroleh dari semua ini. apakah ini yang aku peroleh? pekerjaan yang mapan. pendapatan yang cukup besar. semua yang aku lakukan untuk inikah?

pikiranku terus melayang ke depan, tanpa terkontrol. berpikir secara liar dan tak terkendali. sampai pikiran ini mentok dengan pertanyaan. untuk apa sebenarnya aku hidup? belajar dengan giat,apakah untuk mendapat pekerjaan? setelah dapat kerja, terus bekerja tanpa kenal lelah. apakah untuk mendapat uang? setelah mendapatkan uang. untuk apa uang ini? untuk menikah dan punya anak? kalau sudah punya lalu mau apa? apakah perlu uang yang besar untuk menikah dan punya anak? sehingga perlu bekerja keras tanpa lelah. dan belajar dengan giat saat menjadi siswa.

apakah menikah dan memiliki keturunan tujuan akhir dari hidupku? aku rasa tidak. lalu untuk apa hidup di dunia ini? ada yang mengatakan untuk menyembah tuhan. lalu untuk apa sekolah dan bekerja? apakah hidup ini untuk mencari kebahagiaan? di manakah letak sebuah kebahagiaan? apakah dengan berdzikir kita bisa mencapai kebahagiaan? apakah dengan memiliki segalanya kita bisa bahagia? hati ini terasa kering dan terus mengeras, sampai menjadi batu dan tak bisa di cairkan lagi.

emosi dan pikiran terus melayang tak terkendali. sampai terasa di dada ini sebuah getaran. seakan mengatakan "astaghfirullah". ya hanya dengan berdzikirlah hati ini bisa tenang, dan pikiran ini mulai terkontrol lagi. dan mungkin jawaban dari tujuanku hidup akan aku temukan pada saatnya nanti.

Selasa, November 16, 2010

perbedaan hari raya

Lagi-lagi ada perbedaan pendapat tentang hari raya. dan terus saja di perdebatkan. ada yang fanatik sekali memilih salah satu kelompok. ada yang merasa mengerti dan mengambil pilihannya sendiri. beberapa ulama sudah sering mengatakan jangan memperdebatkan masalah ini. sehingga mengakibatkan perpecahan. anggaplah semuanya itu sebagai karunia dari allah. seperti hadits nabi yang sering disebut2 para ulama(lupa haditsnya yang mana.. hahaha).

Baru saja ada temen yang memperdebatkannya. dia bilang "kenapa Allah memberikan manusia kesempurnaan dr makhluk ciptaan-NYA, itu dikarenakan agar manusia bs berpikir lbh baik bukannya ikut-ikutan(hari raya). q bukan aliran A or B or...., yg jelas q cm berpanduan dgn Al Qur'an dan Al Hadits"

ya bagus juga sech dia mau berpikir dan memutusakan kapan hari raya. hanya saja tidak semua orang memiliki ilmu agama yang kuat seperti dia. saya sendiri sadar ilmu agamaku masih minim sekali. karena itu aku menyerahkannya pada keputusan pemerintah. yang pastinya di dalam keputusannya menyertakan semua orang yang ahli di bidangnya. layaknya bidang ilmu-ilmu yang lain. tidak semua hal aku mengerti dengan baik. karena itu aku menyerahkannya pada pakarnya. seperti sebuah perusahaan yang menyerahkan pembuatan softwarenya kepada software house karena mereka berpikir software house tersebut memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dalam pembuatan software dari pada perusahaan itu sendiri.

ada juga yang memilih ikut kyainya. karena dia merasa kyainya lebih pintar dari pada dia. tapi lebih baik kita sendiri juga pilih-pilih dalam menentukan orang yang kita ikuti. jangan sampai yang kita ikuti ternyata orang yang tidak ahli dalama bidangnya(red: agama). seperti kita mau memperbaiki komputer, kalau kita sendiri mampu perbaiki sendiri atau tidak bisa serahkan perbaikan kepada ahli komputer. jangan sampai di serahkan kepada orang yang tidak ahli komputer atau kita sendiri tidak bisa komputer tapi berusaha memperbaikinya. bisa-bisa tidak malah di perbaiki mungkin malah rusak. dan saya rasa ini tidak hanya salah dari orang yang memperbaiki. tapi juga yang memilih kepada siapa dia memutuskan untuk memperbaikinya.

yach cuma sedikit unek-unek, saya tidak menjawabnya langsung keorangnya. saya sebisa mungkin untuk menghindari perdebatan-perdebatan yang takutnya akan menimbulkan perpecahan. saya suka saja jika di ajak diskusi. tapi jika nada-nadanya sudah mulai keras dan di takutkan terjadi perpecahan. mending aku ngalah saja. diam dan tidak usah di teruskan. entahlah keputusan saya ini benar atau tidak. hanya saja saya tidak suka jika berdebat atau diskusi yang seperti itu.