Tuesday, December 06, 2011

SAP Mencari user yang bisa mengakses T-Code




dalam menangani SAP baik itu modul MM, PM, FI ataupun yang lain. terkadang kita perlu tahu user siapa saja yang bisa mengakses T-Code tertentu. misalnya apakah user HR bisa mengakses T-Code ME21N(Create PR)? atau beberapa pertanyaan lain yang senada. berikut sedikit Tips untuk mencari user yang bisa mengakses T-Code. ada beberapa macam cara, akan saya sebutkan satu persatu.

Gunakan T-Code : AUTH atau SUIM
menu akan berubah ke dalam bentuk "infosystem Authorization". ada beberapa T-Code atau menu yang bisa kita gunakan. lihatlah pada gambar berikut :

Ada 3 T-Code yang bisa kita gunakan.

  1. By Transaction Authorizations
    double klik untuk menggunakan menu ini. lalu masukkan T-Code yang ingin di cari.

  2. By Transaction Assignment
    menu ini digunakan untuk mencari Role yang bisa mengakses T-Code tertentu. doble klik menu ini lalu masukkan T-Code yang ingin di cari
  3. By Authorization Value
    Menu ini digunakan untuk mencari Role juga. hanya saja pencariannya berdasarkan Authorization Object. Doble Klik menu ini lalu isi Object1 dengan S_TCODE. lalu isi valuenya dengan T-Code yang ingin di cari.

Baca Selengkapnya....

Friday, November 11, 2011

Arti Lirik kiya karo By Maher Zain




Maher zain. lagunya enak-enak di denger. arti liriknya juga bagus banget. tapi satu lagu yang gak ngerti arti liriknya. judul lagunya kiya karo. penasaran dengan arti liriknya. saya mencoba cari-cari di internet dan akhirnya ketemu. ternyata sebagian liriknya itu memakai bahasa urdu. akar bahasa India, lagu ini emang mirip lagu yang ada di film india sech. :)
Lirik dan artinya seperti ini.

   Allah-hi-Allah-kiya-karo 
(Katakan Allah, hanya Allah)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo 
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai 
(Dia yang menguasai semua alam)
  Naam-usi-ka-liya-karo 
 (hanya menyebutkan namaNya) 
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah) 
Allah-hi-Allah 
 (Allah, hanya Allah) 

 (Repeat) 

  Just like a sunrise 
(seperti matahari yang terbit) 
Can’t be denied 
(tidak bisa di hentikan) 
Just like the river 
(seperti sungai) 
Will find the sea 
(yang akan menemukan lautan) 

Oh Allah, You’re here 
(Oh Allah, Engkau ada di sini) 
You’re always near
(Engkau selalu dekat) 
And I know without a doubt
(Dan aku tahu tanpa keraguan) 
That you always hear my prayers 
(bahwa kau akan selalu mendengar doaku)

 Such-ki-rahoon-pey-chala-karo 
(Tetap berjalan pada jalan yang benar) 
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo 
(Jangan melukai siapapun) 
Jo-duniya-ka-malik-hai 
(Dia yang menguasai semua alam) 
Naam-usi-ka-liya-karo 
 (hanya menyebutkan namaNya) 
Allah-hi-Allah 
(Allah, hanya Allah) 
Allah-hi-Allah 
 (Allah, hanya Allah) 

 Allah-hi-Allah-kiya-karo
(Katakan Allah, hanya Allah) 
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo 
(Jangan melukai siapapun) 
Jo-duniya-ka-malik-hai 
(Dia yang menguasai semua alam) 
Naam-usi-ka-liya-karo 
 (hanya menyebutkan namaNya) 
Allah-hi-Allah 
(Allah, hanya Allah) 
Allah-hi-Allah 
(Allah, hanya Allah)

So many bright stars 
(Begitu banyak bintang bersinar) 
Like diamonds in the sky 
(Seperti intan yang ada di langit) 
It makes me wonder 
(ini membuatku kagum) 
How anyone can be blind 
(bagaimana semua orang tidak bisa melihat) 

To all the signs so clear 
(pada semua tanda yang begitu jelas) 
Just open your eyes 
(Bukalah mata kalian) 
And I know without a doubt 
 (dan aku tahu tanpa ragu) 
You will surely see the light 
(Kau akan melihat cahaya itu) 

 Theri-duniya, theri-zameen 
(Duniamu, Tanah mu) 
Yeh-kehkashan-hai 
(Seperti sebuah galaxy) 
Yeh-thu-hai-Kareem 
(Dan engkau yang paling mengagumkan) 
Meray-Maula, sun-lay-dua
(Tuhanku, jawablah doaku) 
Hum-baybus-hain-theray-bina 
 (Kamu tidak bisa apa2 tanpaMu) 

Roshan-kar-jahaan 
(Aku mohon berikan cahaya pada duniaku) 
  Aisa-zulm-na-kiya-karo 
 (jangan melakukan tindakan yang tidak adil) 
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo 
(Jangan melukai siapapun) 
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam) 
Naam-usi-ka-liya-karo 
 (hanya menyebutkan namaNya) 
Allah-hi-Allah 
(Allah, hanya Allah) 
Allah-hi-Allah 
 (Allah, hanya Allah) 

  Allah-hi-Allah-kiya-karo 
(Katakan Allah, hanya Allah) 
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo 
(Jangan melukai siapapun) 
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam) 
Naam-usi-ka-liya-karo 
 (hanya menyebutkan namaNya) 
Allah-hi-Allah 
(Allah, hanya Allah) 
Allah-hi-Allah 
 (Allah, hanya Allah) 

 (Repeat) (x2) 

 Allah-hi-Allah (x2)

Baca Selengkapnya....

Thursday, September 22, 2011

Iblis yang pintar, manusia tolol





Tidak sedikit orang yang berusaha mencari justifikasi (pembenar), agar pilihannya menjadi orang kaya tidak direcoki oleh kepentingan agama. Bagi mereka kaya itu lebih baik dari pada miskin, asalkan mau bersyukur. Tidak jarang pula mereka menjadikan keberadaan para sahabat Nabi yang kaya raya sebagai tameng diri mereka. “Kalau sahabat Abdurrohman bin ‘Auf saja kaya raya dan tidak dilarang oleh Nabi kenapa aku tidak boleh?” Begitu kira-kira yang ada dibenak mereka.

Namun sangat disayangkan kalau apa yang mereka katakan tidaklah sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan. Mereka hanya pandai berkhotbah dan berteori tentang masalah dunia. Tetapi sama sekali hal itu tidak terjadi dalam kehidupan mereka. Itulah yang kemudian disebut dengan ‘ulamassu’ (ulama jelek). Dari luar, mereka kelihatan sangat bagus dan baik, namun di dalam hati mereka yang tersisa hanyalah kotoran-kotoran yang menjijikkan. Mereka tak lebih dari sebuah alat penyaring yang selalu mengeluarkan kebaikan bagi orang lain namun juga menyisakan kehinaan bagi dirinya sendiri.


Harus disadari bahwa budak-budak duniawi selamanya tidak akan pernah mencapai puncak surgawi. Mereka tidak akan pernah merasakan kenikmatan ukhrowi yang haqiqi kalau mereka tidak bisa melepaskan diri dari rasa syahwat dan cinta duniawi yang menunggangi mereka. Sebenarnya hati kecil mereka sadar akan hal ini dan selalu menangis minta keadilan. Tetapi mereka lebih dikendalikan oleh nafsu dan birahi dari pada suara hati kecil mereka. Sehingga permintaan si hati kecil hanya dituruti oleh lisan saja. Seolah-olah mereka mengajak umat manusia untuk meninggalkan dunia sedikit demi sedikit. Padahal dia tidak pernah sadar bahwa sebuah rumah yang gelap gulita tidak akan pernah menjadi terang benerang hanya dengan sebuah lampu yang diletakkan di luar.

Mengaku atau pun tidak, kebahagiaan mereka para pengumpul harta benda hanyalah bersifat semu dan fatamorgana belaka. Sehingga tak jarang di balik rasa bahagia yang mereka bangun kerap kali timbul perasaan susah dan khawatir bahkan sering menimbulkan berbagai tindak kedurhakaan kepada Allah. Mereka selalu berharap bisa mencapai tingkat kebahagiaan yang haqiqi dengan dunia yang mereka miliki. Namun sayang mereka telah salah jalan. Menyesal-lah mereka di dunia dan akhirat. Demikian itulah penyesalan yang nyata.

Kalaupun kemudian mereka beragumentasi dengan kekayaan yang dimiliki para ulama dan sahabat Nabi Muhammad itu semua tidak lebih dari sekadar alasan agar mereka bisa merasa tenang, dan juga tak lain merupakan tipu daya syetan untuk menyesatkan manusia. Secara realisitis harus dipahami bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Sahabat Abdurrohman bin ‘Auf atau sahabat yang lain bukanlah digunakan untuk takatsur (jor-joran), kemulyaan dan menghiasi diri sendiri saja. Dan kalau mereka beranggapan bahwa apa yang ada pada diri sahabat seperti itu sama dengan mereka, maka celakalah mereka yang telah merendahkan derajat seorang sahabat Nabi. Dan jika apa yang mereka kumpulkan hanyalah harta yang halal saja bukan berarti itu bisa dijadikan sebagai jaminan untuk mendapatkan legalitas agama dalam menumpuk kekayaannya.

Kenapa mereka tidak mau pernah berpikir secara jernih bahwa segala alasan mereka untuk mendapatkan kekayaan yang sebanyak-banyaknya dengan dalih sahabat Abdurrohman adalah kesalahan yang sangat fatal. Mereka tidak mau meneliti secara detail pada diri beliau. Bahwa meskipun beliau memiliki harta yang melimpah, semua itu malah bukan menjadi harapannya. Sehingga sering kali beliau berharap agar kelak di hari kiamat hanya diberi harta yang sekadar untuk kecukupan makan saja. Bahkan para sahabat beliau sempat menghawatirkan keberadaan beliau setelah meninggal dunia, padahal beliau termasuk salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk sorga.Bila para sahabat saja khawatir akan diri Abdurrohmah bin ‘Auf padahal harta yang beliau peroleh semua dengan cara yang halal dan selalu dialokasikan pada kebaikan, lantas bagaimana dengan orang-orang yang di bawah level beliau?Sungguh ironis kalau ini masih dijadikan sebagai alasan oleh mereka. Padahal harta yang mereka peroleh sangat rentan bercampur dengan barang subhat, haram atau sangat mungkin tercampur dengan hak milik orang lain. Dan sudah sangat jelas inilah strategi hebat yang selalu dijalani si Jahannam, Iblis.Memang, tidak bisa dipungkiri kalau banyak kalangan kyai yang memiliki harta melimpah. Tetapi dengan semua itu mereka sangat merasa tahu diri karena tujuan mereka hanya satu yakni jalan Allah. Maka mereka hanya akan bekerja dan makan dari yang halal saja, tidak foya-foya, tidak bakhil dan selalu mengedepankan kepentingan Allah atas kesenangan pribadinya. Lantas demikiankah orang-orang yang mengaku meniru sahabat Abdurrohman bin ‘Auf itu? Entahlah. Tetapi yang nyata dan jelas adalah tidak.

Para sahabat Nabi bukalanlah tipe manusia yang mata duitan dan kedunyan. Mereka adalah kelompok orang yang lebih suka kemiskinan dari pada bergelimang harta benda. Dalam keadaan susah atau pun bahagia mereka selalu merasa ridla dan bangga akan taqdir dari Allah. Sehingga tak jarang para sahabat ketika mendapatkan secuil harta saja, rasa susahnya bukan main. Bagi mereka harta dunia sekecil apa pun bisa menjadi ancaman serius yang bisa menghancurkan kehidupan akherat mereka. Namun bila kekurangan datang menghampiri mereka, dengan rasa bangga mereka akan menyambut dengan mengucapkan “marhaban bisyi’aris sholihin” (selamat datang tanda-tanda kebesaran kaum sholihin).

Sewaktu mereka ditanya, “Mengapa semua itu mereka lakukan?” mereka menjawab, “Ketika matahari menyinari diriku dan di sekitarku dan keluargaku tidak ada apa-apa maka aku merasa bahagia karena aku telah dapat mengikuti jejak Rasulullah. Namun jika di sekeliling kami ada harta dunia kami merasa susah karena kami ternyata tidak mampu mengikuti jejak langkah Rasulullah”.Dan kalau kemudian mereka merasa bisa meniru sahabat Abdurrahman bin ‘Auf, hanya mencari dan makan yang halal saja kemudian ditasarrufkan terhadap hal-hal yang diridlai oleh Allah, maka sekali lagi percayalah, bahwa hal itu juga merupakan agenda jebakan Syetan.

Mereka harus menyadari kalau mencari sesuatu yang benar-benar halal seperti yang pernah diperoleh para sahabat pada masa sekarang ini tak lebih seperti halnya mencari butiran pasir hitam di tengah kegelapan malam. Tentunya perlu diperhatikan bagaimana kehati-hatian para sahabat dalam mencari harta benda. Seumpama ada 70 pintu menuju perkara halal dan bersanding dengan 1 pintu menuju hal haram, mereka tidak akan pernah mau melewati ke-71 pintu tersebut. Padahal pada masa sekarang ini untuk mencari harta yang benar-benar halal sangatlah sulit sekali atau bahkan bisa dibilang mustahil. Lantas bagaimana dengan mereka para hamba dunia itu?

Seumpama mereka bisa melakukan hal itu pun bukan berarti mereka telah menyelesaikan segala permasalahan. Mau tidak mau setelah harta telah mereka peroleh, mareka harus memikirkan bagaimana mentasarrufkannya. Dan ini pun akan sangat menguras energi dan pikiran. Sehingga Khiyarut Tabi’in (Para Tabi’in terbaik) ketika ditanya, “Baik mana antara orang yang mencari harta kemudian ditasarrufkan di jalan Allah dengan orang yang sama sekali tidak mencari harta?” mereka menjawab, “Orang yang kedua itu masih lebih baik dari pada orang yang pertama. Dan kalau dibandingkan, jarak perbedaan diantara keduannya adalah bagikan arah barat dan timur.”

Kalaupun dengan memperbanyak harta benda itu akan bisa mendatangkan kebahagiaan, maka bagaimana mungkin Rasulullah tidak melakukan hal itu. Padahal beliau adalah lentera petunjuk bagi seluruh umat manusia. Bahkan seandainya mau, beliau bisa menjadi orang yang terkaya sejagat raya. Sampai malaikat Jibril juga pernah menawari beliau bongkahan emas sebesar gunung Uhud. Namun beliau tidak pernah mau dan lebih menyukai hidup dengan serba sederhana. Dan tentunya cukuplah bagi mereka kisah sahabat Tsa’labah.

Maka tidak ada alasan sama sekali bagi seseorang untuk menumpuk harta kekayaannya. Apapun argumentasi yang mereka pakai semua itu adalah rekayasa dan tipu daya yang telah dirancang dengan rapi oleh Iblis dan Syetan. Dan itu mereka gunakan hanyalah untuk membentengi diri mereka dari intervensi agama. Dan mereka sadar betul kalau sebenarnya itu mereka lakukan hanya karena takut jatuh miskin, untuk berfoya-foya, jor-joran dan sebagainya. Mengaku atau tidak? Mereka harus mengakuinya!

Sumber : Langitan

Baca Selengkapnya....

Wednesday, September 21, 2011

Cara Memandang orang lain





Syekh Abdul Qodir Al Jaelany berkata “Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama dari kamu, dan katakanlah ‘Mungkin ia lebih baik di sisi Allah daripada diriku, dan lebih tinggi derajatnya’.

Apabila dia lebih kecil, hendaklah engkau mengatakan, ‘Orang ini tidak berbuat dosa kepada Allah sedangkan aku telah berbuat dosa, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada diriku’.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau lihat itu lebih tua, hendaklah engkau mengatakan, ‘Orang ini telah banyak beribadah kepada Allah sebelum aku’.

Apabila keadaan orang yang engkau pandang adalah seorang alim (kiai), hendaklah engkau mengatakan, ‘Orang ini telah diberi sesuatu (anugrah) yang belum aku dapatkan dan ia telah mengetahui apa yang belum kuketahui serta telah mengamalkan ilmunya’.

Dan Apabila orang yang engkau jumpai itu orang bodoh, hendaklah engkau mengatakan, ‘Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berbuat dosa padahal aku berilmu. Aku tidak tahu dengan apa aku diakhiri atau dengan apa dia diakhiri kehidupannya (Husnul Khotimah atau Su’ul Khotimah)’.

Dan Apabila keadaan orang yang engkau jumpai adalah orang kafir, hendakalh engkau mengatakan, ‘Aku tidak tahu, mungkin aku menjadi kafir sehingga aku berakhir dengan amal yang jelek’.

Diambil dari Kitab Nashaihul Ibad

Baca Selengkapnya....

Tuesday, September 20, 2011

Kumpulan Sholawat Langitan





Kumpulan Shalawat Langitan, Silahkan di download kumpulan MP3 Shalawat dari pondok pesantren langitan di bawah ini. Mari bershalawat, menenangkan hati, menyejukkan fikiran. Alhamdulillah :).


Berikut kumpulan beberapa Link MP3 Shawalat dari langitan.

  1. Rohattil (Ipunk)
  2. Shollu'alanur (As'ad)
  3. Habibi (Ipunk)
  4. wulidal musarof (rofiq)
  5. Dawini (mas'ud)
  6. afnaituqolbi
  7. Addinulana (Syamsudin)
  8. A'budu (Syamsudin)
  9. Alaikasolalloh (As'ad)
  10. Alhijrotu (Muhaimin)
  11. Al 'aqlu (Rofiq)
  12. Amsaktunafsi (Ipunk)
  13. Ajmala dhikro (as'ad)
  14. Alloh ana dhoifak (Syamsuddin)
  15. Al Qolbu Mutayyam
  16. Assubhubada (Rofiq)
  17. Ana muslimun (Syamsudin)
  18. Antal Hana (Syamsudin)
  19. Asyroful Kholqi (Syamsudin)
  20. Azka Taslimi (Syamsudin)
  21. Ghurobba (As'ad)
  22. Do'atuttolabah (Rofiq)
  23. Bismillah (Muhaimin)
  24. Darby (Syamsuddin)
  25. Badwusshobah (Rofiq)
  26. Hana Laika Hina (Syamsudin)
  27. Habibi Anta ya waladi (Syamsudin)
  28. Habibi Ya Sanadi (Mas'ud)
  29. Hubu Ahmadi (yani)
  30. Habibi Ya rihal imani (Syamsudin)
  31. Jihad fillah (Syamsudin)
  32. Huwa Inda (Syamsudin)
  33. Khoirol bariyah (Rofiq&Yani)
  34. Ilahi Ya Arhamarrohimin (Syamsudin)
  35. Huwanuru
  36. Maula ya Solli ala (Yani)
  37. Madaaihuna (Yani)
  38. Kuntu (Syamsudin)
  39. Mamadda (Ipunk)
  40. Maulaya sholli (Syamsudin)
  41. Salamun (Rofiq)
  42. Nurul huda (Syamsudin)
  43. Robbahu inna (Muhaimin)
  44. Shohibussyafaah (Rofiq)
  45. Sautudlomir (Mu'id)
  46. Sholawatullohiwasalam (Rofiq)
  47. Sholawatullohidzilkaromi (Syamsudin)
  48. Shollidzaljalali (Syamsudin)
  49. Solallohu (Muhaimin)
  50. Sholawatullloh (Muhaimin)
  51. Syatta syatta (Syamsudin)
  52. Siru Lawas (Syamsudin)
  53. Tahanina (Syamsudin)
  54. Sirrulinailil (Syamsudin)
  55. Sholiwasalim daiman (Rofiq&Yani)
  56. Ya ayuhannabi (Syamsudin)
  57. Thola'albadru (Ipunk)
  58. Ya Rosulalloh (Yani)
  59. Ya Fattahu (Syamsudin)
  60. Ya khoirohadi 2 (As'ad)
  61. Ya Rabbibil Mustofa (As'ad)
  62. Ya Rabbi Antal hadi (Yani)
  63. Ya Qosidbaitulloh
  64. Yasayidassadat (Muhaimin)
  65. Ya Sayidarusli (Syamsudin)

Baca Selengkapnya....

Matinya Mata Hati





Pemayahan diri dalam mengupayakan perkara yang telah mendapatkan jaminan dari Allah Swt dan penyia-nyiaan perkara yang diperintahkan oleh-Nya adalah merupakan indikasi kebutaan mata hati seorang manusia.
Sisi kehidupan manusia di alam dunia yang mendapat jaminan dari Allah Swt adalah urusan rizqi sebagai media penjaga keberlangsungan hidup. Jaminan ini semata merupakan kemurahan dari Allah pada manusia bukan kewajiban atas-Nya. Sebagaimana difirmankan :
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan berapa banyak hewan yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri, Allah lah yang memberi rizki padanya dan padamu. dan Ia maha mendengar lagi maha mengetahui.(QS:Al-ankabut 60)
Maksudnya Allah Swt adalah satu-satunya dzat penyuplai segala kebutuhan ragawi seluruh makhluk-Nya termasuk juga manusia, bukan yang lain-Nya atau usaha kita sendiri. Rizki seorang manusia telah ditentukan kadarnya untuk masing-masing pribadi jauh hari sebelum manusia sendiri itu diwujudkan, tepatnya yaitu lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Manusia tidak perlu pusing memikirkan rizqi, karena Allah tidak memerintahkan manusia untuk memayahkan diri dalam mencarinya, manusia tidak perlu menghabiskan seluruh kekuatan untuk mendapatkannya, mencurahkan seluruh perhatian untuk menghasilkannya. Rizqi itu ibarat bayangan yang akan lari bila kita kejar dan berhenti manakala kita tenang. Falsafah yang semestinya kita terapkan adalah rizki itu mencari kita bukan kita yang mencari rizki. Sebagaimana pula ajal yang menghampiri kita bukan kita yang menghampiri ajal.
Meskipun demikian, kita juga sebaiknya tetap berusaha mencarinya. Sebagaimana secara implisit kita dapati suatu perintah anjuran dalam Alqur’an :
وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur pada-Nya. (QS: Al-qosos 73)

Pencarian yang diperintahkan di sini tentu sebatas upaya yang wajar dan sekadarnya saja, tidak sampai menghabiskan seluruh kekuatan. Sebagaimana tergambar dalam suatu ungkapan yang konon termaktub dalam kitab Taurot yang diturunkan kepada Nabi Musa As :
يَا ابْنَ آدَمَ حَرِّكْ يَدَك يُسَبَّبْ لَك رِزْقُك
Hai anak adam (manusia) gerakkanlah tanganmu, maka rizkimu akan datang karenanya.
Sehingga pekerjaan yang dilakukan dalam rangka mencari rizki ini tidak sampai menjadi indikator padamnya mata hati, karena upaya itu tidak sampai merusak kepasrahan seorang hamba kepada Allah Swt, meski berusaha namun ia tetap berkeyakinan bahwa otoritas yang menentukan berhasil tidaknya usaha yang di lakukan adalah Allah semata. Dan juga usahanya itu tidak akan sampai berimplikasi pada terbengkalainya tugas-tugas penghambaan yang telah dititahkan.
Mata hati yang dalam lughot arab disebut “Bashiroh” adalah sebuah perangkat dalam diri manusia yang berfungsi untuk menganalisa hal-hal yang bersifat ma’nawi. Sebagaimana mata kepala tidak dapat melihat kecuali pada hal-hal yang tampak. Mata hati inilah yang mempunyai pandangan jauh ke depan, mempunyai pengetahuan bahwa akhir cerita yang baik dari segalanya adalah taqwa. Karena itulah yang semestinya dilakukan oleh seorang hamba adalah pemayahan diri dan pengerahan segala daya upaya demi merealisasikan taqwa yang memang benar-benar berkwalitas serta tidak ada lagi alasan untuk menundanya.
Jika Allah Swt menghendaki terbukanya mata hati seorang hamba, maka raga hamba tersebu akan selalu disibukkan dengan aktifitas-aktifitas ibadah dan penghambaan pada-Nya, batinnya akan disibukkan dengan kecintaan kepada-Nya. Ketika kecintaan dalam batin seorang hamba sudah semakin membahana, panghambaannya juga sudah semakin intens, maka mata hatinya akan semakin bertambah ketajamannya. Hingga pada saatnya mata hati itupun dapat mendominasi mata kepalanya, penglihatan dzohirnya larut dalam pandangan mata batinnya, hingga yang terlihat olehnya hanyalah perkara-perkara ma’nawi saja. Kiranya inilah ma’na pernyataan guru dari para guru kita yang majdub (orang yang ditarik oleh Allah untuk menjadi kekasih-Nya dan saking terlena dengan kecintaan kepada Allah hingga ia tak merasakan keberadaan dirinya sendiri ) :
غَيَّبْتُ نَظَرِيْ فِي نَظَرٍ وَأَفْنَيْتُ عَنْ كُلِّ فَانِي
حَقَّقْتُ مَا وَجَدْتُ غَيَّرَ وَأَمْسَيْتُ فِي الْحَالِ هَانِي
Ku hilangkan pandanganku dalam pandangan, ku sirnakan (pandanganku) dari segala yang sirna.
Kupastikan semua yang kutemui berubah-ubah, dan sore ini diriku dalam keadaan senang.
Sebaliknya jika Allah Swt menghendaki untuk menghinakan seorang hamba, maka Allah akan menyibukkan fisiknya dengan melayani makhluk dan menyibukkan bathinnya dengan kecintaan kepada mahluk. Kondisi ini akan berlangsung terus-menerus hingga meredup dan padamlah mata hatinya, sehingga yang berfungsi hanyalah mata kepalanya saja, ia tidak dapat melihat kecuali hanya pada perkara-perkara yang tampak oleh panca indra saja. Hingga tercurahlah segala perhatiannya pada perkara yang telah mendapat jaminan dari Allah Swt yaitu urusan rizki. Ia habiskan seluruh kekuatan dirinya untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Kita hanya bisa meminta perlindungan kepada Allah Swt. Wallohu a’lam. By : Doel-Ziez.

Baca Selengkapnya....

Friday, September 16, 2011

Tanda - Tanda 100 hari hingga menjelang kematian




PERHATIKAN dan RENUNGKAN.. Apa yang anda PIKIRKAN??….Bagaimana kalau yang di TANDU itu adalah ANDA..?? Suka ataw tidak SUKA anda akan mengalaminya sekali dalam seumur hidup ANDA. Ini yang disebut dengan MATI.. Awal dari kehidupan yang SESUNGGUHNYA..!!!!

 Tanda-tanda kematian menurut ulama adalah benar dan nyata, hanya amalan dan ketakwaan kita saja yang akan dapat membedakan kepekaan kita kepada tanda-tanda ini. Rasulullah SAW diriwayatkan, masih mampu memperlihat dan menceritakan kepada keluarga dan sahabat secara langsung akan kesukaran menghadapi sakaratul maut dari awal hingga akhir hayat Baginda.

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperolehi tanda-tanda ini sehingga beliau mampu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sakaratulmaut secara sendirian. Beliau menyediakan dirinya dengan segala persiapan termasuk mandinya, wuduk serta kafannya, hanya ketika sampai bahagian tubuh dan kepala saja beliau telah memanggil abangnya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk menyambung tugas tersebut. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafankan bahagian mukanya.

Adapun riwayat-riwayat ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah SWT tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan kita umat Islam supaya dapat bertobat dan selalu siap dalam perjalanan menghadap Allah SWT.

Walau bagaimanapun, semua tanda-tanda ini akan berlaku kepada orang-orang Islam saja, sedangkan orang-orang kafir yaitu orang yang menyekutukan Allah, nyawa mereka ini akan dicabut tanpa peringatan sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT.

Adapun tanda-tanda ini terdiri beberapa keadaan :

100 Hari Sebelum Hari Kematian

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yg dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya apakah mereka sadar atau tidak saja. Tanda ini akan berlaku lazimnya setelah waktu Asar. Seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki akan mengalami getaran, seakan-akan menggigil.

Contohnya seperti daging sapi/kambing yang baru disembelih, dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya nikmat, dan bagi mereka yang sadar dan berdetak di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah sadar akan kehadiran tanda ini.

Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian , tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa ada manfaat. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

40 Hari Sebelum Hari Kematian

Tanda ini juga akan terjadi sesudah waktu Asar. Bagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Arash Allah swt. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita antaranya adalah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang waktu.

Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

7 Hari Sebelum Hari Kematian

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah sakit di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba- tiba dia berselera untuk makan.

3 Hari Sebelum Hari Kematian

Pada masa ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat diketahui/ dipahami maka berpuasalah kita setelah itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti.

Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan turun, dan ini dapat diketahui jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

1 Hari Sebelum Hari Kematian

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di bahagian ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda akhir

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan dingin di bahagian pusat dan akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikatmaut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

BERSIAP SIAPLAH…..HARI ITU PASTI AKAN DATANG!! ..SUDAH SIAPKAH BEKAL KITA..!????????

wallahu a’lam


Baca Selengkapnya....

Tuesday, August 16, 2011

Cara Penggunaan Siwak / Bersiwak




Siwak atau miswak berbentuk batang, diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (Salvadora persica) yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika dan berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon Arak adalah pohon yang kecil, seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, diameternya lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas warnanya agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna coklat dan bagian dalamnya berwarna putih, aromanya seperti seledri dan rasanya agak sedikit pedas.

Siwak memiliki beberapa faedah yang sangat besar, diantaranya yang paling besar adalah yang telah dianjurkan oleh hadits: “Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Allah.” (HR. Ahmad)

Keutamaan shalat dengan memakai siwak itu, sebanding dengan 70 kali shalat dengan tidak memakai siwak. (HR. Ahmad)

Cara Penggunaan Siwak

Orang menggunakan siwak dalam bentuk batang atau stick kayu dengan cara:

1. Batang atau cabang siwak dipotong berukuran pensil dengan panjang 15-20 cm. Stick kayu siwak ini dapat dipersiapkan dari akar, tangkai, ranting, atau batang tanamannya. Stick dengan ukuran diameter 1 cm dapat digigit dengan mudah dan memberikan tekanan yang tidak merusak gusi apabila digunakan.

2. Kulit dari stick siwak ini dihilangkan atau dibuang hanya pada bagian ujung stick yang akan dipakai saja.

3. Siwak yang kering dapat merusak gusi, sebaiknya direndam dalam air segar selama 1 hari sebelum digunakan. Selain itu, air tersebut juga dapat digunakan untuk kumur-kumur.

4. Bagian ujung stick siwak yang sudah dihilangkan kulit luarnya digigit-gigit atau dikunyah-kunyah sampai berjumbai seperti berus.

5. Bagian siwak yang sudah seperti berus digosokkan pada gigi, dan bisa juga digunakan untuk membersihkan lidah.

Cara Bersiwak

Cara bersiwak tidak ada ikhtilaf antara ulama, bahwa didalam kitab Syama’il Imam Tirmidzi, dalam hadist Rasul saw, bahwa Rasul saw. bersiwak dengan kayu arak, dan memulainya dari pertengahan, lalu ke arah kanan lalu ke kiri, demikian diulangi sebanyak 3 X.


Imam Ghazali rahimahullah melengkapi caranya, yaitu:


· meletakkan siwak di jajaran gigi tengah bagian atas,

· lalu mendorongnya ke arah kanan sampai ke ujungnya,

· lalu turunkan ke jajaran bawah kanan ujung,

· lalu mendorongnya kembali ke tengah jajaran bawah,

· lalu kembali naik ke tengah jajaran atas,

· lalu mendorongnya ke arah kiri sampai ujungnya,

· lalu turunkan ke jajaran bawah kiri ujung,

· dan mendorongnya lagi ke tengah di jajaran bawah.


Untuk mudahnya, anggaplah anda menulis angka delapan yang rebah. Demikian ini untuk perhitungan 1X, lalu mengulanginya sampai 3X. Inilah cara terbaik. Namun cara apapun juga sudah mendapatkan pahala sunnah.

Sulitkah? Jangan lupa, satu kali anda bertasbih kepada Allah dengan diawali siwak, maka dihitung 70X bertasbih. Shalat dengan diawali siwak, akan terhitung 70X shalat. Dua rakaat shalat tahajjud diawali dengan siwak, maka dihitung 140 rakaat tahajjud. Hebat bukan? Maha Suci Sang Maha Dermawan menempatkan curahan kedermawanannya pada segala hal.

Baca Selengkapnya....

Monday, August 08, 2011

Pendapat para ulama ahli hadits dan ahli fiqih tentang Bid'ah




Tema bid’ah selalu hangat dan actual untuk dibicarakan. Hal ini disamping kaarena memang banyak terjadi problem di masyarakat yang berkaitan dengan bid’ah, juga dari waktu ke waktu selalu hadir kelompok-kelompok yang menolak berbagai aktivitas dan tradisi keagamaan masyarakat dengan alasan klasik yaitu BID’AH. Ternyata pangkalnya adalah karena adanya hadits “Kullu Bid’atin Dholalah” (semua bid’ah itu sesat) yang dipahami serampangan oleh kaum sempalan wahhabiyah ini

Oleh karena itu para ulama ahli hadits dan ahli fiqih berpandangan bahwa hadits “semua bid’ah itu sesat” adalah kata-kata general (‘am) yang maknanya terbatas (khash). Mari kita simak pendapat para ulama ahli hadits dan ahli fiqih, Kita seharusnya menyimak apa kata ulama terdahulu seperti Imam Syafi’I, Imam Nawawi, Imam Qurthubi, Imam Suyuthi, dll Mari kita simak pendapat-pendapat yang mengenai Bid’ah:

1. Al-Imam Al-Hafidz Al-Nawawi menyatakan:
“Sabda Nabi SAW “Kullu bid’atin Dholalah” ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “Kullu bid’atin Dholalah” adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Al-Imam Nawawi , Syarh Shahih Muslim 6/154)

2. Imam Nawawi juga mengatakan:
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

3. Berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

4. Al Imam Al Hafiz Al-Qurthubi mengatakan:
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

5. Imam Suyuthi berkata:
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

6. al-Imam asy-Syafi’i berkata:


اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّـنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ.

“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari)

7. Al-Imam asy-Syafi’i berkata :


الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب " مناقب الشافعيّ)

“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i) (Manaqib asy-Syafi’i, j. 1, h. 469).


8. Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menuliskan sebagai berikut:


لَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّـنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ.

“Perkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) tidak pasti tercela hanya karena secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu adalah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu adalah perkara baru yang mengajak kepada kesesatan”. (artikel selengkapnya tentang hakekat bid'ah dapat anda download di http://www.mediafire.com/?6q3e4wgbdifh3hc)


Baca Selengkapnya....

Tuesday, August 02, 2011

Diplomat Imam Ali




Ibnu Abbas telah lama ditakuti oleh kaum Khawarij karena logikanya yang tepat dan tajam. Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah percakapan yang mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan:

Tanya Ibnu Abbas, “Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali?” Ujar mereka, “Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya.
Pertama dalam agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman “Tak ada hukum kecuali bagi Allah!”
Kedua, ia berperang tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaiknya bila mereka orang-orang beriman maka haramlah darahnya!”
Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi orang-orang mukmin lagi, berarti ia kepala bagi orang-orang kafir!


Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas, katanya, “Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam agama Allah, apa salahnya? Bukankah Allah telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian membunuh binatang buruan, sewaktu kalian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewan yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hakim!” (QS.Al-Maidah: 95)


“Nah, atas nama Allah cobalah jawab: Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?” Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan bantahannya, “Tentang ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil Aisyah istri Rasulullah dan Ummul Mu’minin itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan?”

Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena malu, lalu menutupi muka mereka dengan tangan. Sementara Ibnu Abbas beralih kepada soal yang ke tiga, “Adapun ucapan tuan-tuan bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya sampai selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah di hari Hudaibiyah, yakni ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penulis: “Tulislah! Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah” Tiba-tiba utusan Quraisy menyela, “Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentu kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak pula akan memerangimu! Maka tulislah: “Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah!” Kata Rasulullah kepada mereka, “Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tidak hendak mengakuinya!” Lalu kepada penulis surat itu diperintahkan, “Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis! Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah!”

Demikianlah dengan cara menarik dan menakjubkan berlangsung tanya jawab antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij. Belum lagi tukar pikiran selesai, dua puluh ribu orang di antara mereka bangkit serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Imam Ali!”

Baca Selengkapnya....