Subscribe:

Main Menu

Selasa, Desember 15, 2009

7 Desember 2009:10:32

Belum hilang rasanya rasa sedihku karena kehilangan seseorang yang aku sayangi.. sekarang sudah di berikan cobaan lebih berat lagi dengan kehilangan bapak. ya allah aku meminta pertolongan darimu. berikan hamba kesabaran dan kekuatan menghadapi ini.

Masih teringat setiap kerjadian. detik-detik dimana aku dikabari tentang meninggalnya bapak. Hari itu hari senin tanggal 7 Desember 2009, tepat jam 10:32. aku mendapatkan telpon dari adikku yang sedang mencari ilmu di pesantren langitan. dengan menangis tersedu-sedu adikku menelponku dan menyuruhku untuk pulang segera. dengan hati yang bingung aku terus bertanya kenapa dengan tiba-tiba aku di suruh pulang? dan kenapa adikku menangis seperti itu?. aku teringat semua anggota keluargaku. takut terjadi apa2.

langsung aku mencoba meminta izin untuk pulang. tapi belum di ijinkan karena harus ada alasan kuat kenapa aku harus pulang. aku mencoba menelepon adikku lagi meminta penjelasan darinya. masih dengan tangisnya. dia dengan singkat menceritakan "Bapak, bue karo aily kecelakaan. bapak kapundut. alhamdulillah bue karo aily gakpopo.." rasa percaya dan tidak percaya terus mengusik dalam pikiran. sejenak berpikir tentang apa yang di katakan adikku...

aku bingung dan tak bisa berpikir dengan baik.. aku pikir lebih baik aku pulang sekarang untuk lebih pastinya.. dengan menaiki sepeda motor aku berniat untuk langsung pulang ke tuban. di perjalanan pikiranku terus memikirkan hal ini... sampai tak terasa air mata membanjiri... pikiranku tak tenang bingung dan tidak bisa mempercayainya... sementara itu HPku terus berbunyi... telpon dan sms terus berdatangan... ingin mengabari dan mengucapkan bela sungkawa.aku tidak mempedulikan semua itu.. aku tidak sempat untuk memikirkan itu.

Di tengah perjalanan... aku mencoba untuk menenangkan diri. kuhentikan laju motorku.. berhenti didepan ruko2. kucoba untuk tenang. membuka handphone.. rupanya kakakku mencoba menghubungiku berkali-kali. setelah menelpon kakakku.. aku mulai bisa untuk tenang. dan langsung aku lanjutkan perjalanan. kali ini rencanaku tidak akan mengendarai sepeda motor sampe rumah. sampe terminal saja. ntar pulangnya naik bis. di karenakan aku masih belum bisa konsen. takut akan terjadi sesuatu.

di dalam perjalanan naik bis. pikiranku tetap tidak bisa tenang. terus memikirkan bapak. memikirkan keadaan ibu. dan adekku.. begitu juga handphoneku terus berdering mengiringi perjalanku..

Sesuai permintaan kakakku, aku akan turun tepat di depan pesantren langitan. setelah aku turun. aku teringat dengan adikku... aku belum membelikan oleh-oleh buat adik. berharap adikku tidak kenapa-kenapa. dan nanti akan senang saat aku membawakan oleh-oleh. langsung saja aku pergi ke toko pesantren langitan untuk sekedar membeli sedikit oleh-oleh. dan aku telpon kakak sepupuku yang sudah tinggal di dekat pesantren dan menjadi guru di sana. untuk sekedar mengabari kalau aku sudah berada di langitan.

tidak selang lama kakak sepupuku datang menjemputku. aku mencoba tanya beberapa hal kepada kakakku itu. bagaimana keadaan ibu dan adik. sekilas mendapat penjelasan dariNya aku sedikit tenang. karena mereka tidak mengalami luka yang serius.

Sesampai di Rumah sakit. aku langsung di sambut oleh keluarga yang sedang menunggu. rasa sedih mulai menghampiri.. aku mencoba untuk tegar.. tapi semua itu hilang saat aku melihat kondisi ibuku.. baju - bajunya sobek. darah yang hampir mengering masih ada di hampir sekujur tubuh. wajah ibuku yang penuh memerah entah karena darah ato kesdihan yang mendalam. dan juga jahitan di hampir seluruh wajahnya.. air mataku terus keluar tanpa bisa aku bendung. adikku ada di sebelah ibuku mencoba memberitahuku untuk jangan menangis agar ibu tidak bertambah sedih.. aku mencoba dengan keras untuk tegar.. aku keluar ruangan sebentar untuk menghapus air mataku. kulihat lagi ibuku.. dan mencoba untuk menenangkannya.. aku mencoba melihat sekeliling. aku tidak melihat adikku yang ikut kecelakaan di ruangan itu. setelah aku menanyakannya.. aku tahu kalau adikku masih ada di Ruang gawat darurat.

Segera aku turun dan menuju ke ruang gawat darurat. aku menemui adikku dengan luka-luka lecet dan darah di sekujur tubuh. bahkan darah keluar dari telinga kirinya.. tatapannya kosong.. diam tak banyak bicara seperti biasanya. terus diam memandang langit-langit ruangan. seakan bingung apa yang telah terjadi.. aku menghampirinya mencoba untuk menghiburnya... aku terus menemaninya saat dokter memriksanya.. mengendongnya ke dalam ruang rontgen.. aku tak tega untuk meninggalkannya.. tapi aku harus pulang kerumah untuk mensholati dan menguburkan bapakku..



0 komentar: